Friday, September 11, 2015

Kopdar ke-19 dan Rappelling Pendaki Laka-laka

KOPDAR KE-19 dan RAPPELLING
PENDAKI LAKA - LAKA

KOPDAR. Kopdar itu kan artinya kopi darat ya gaes. Janjian untuk ketemu / tatap muka secara langsung disuatu tempat yang udah disepakati secara bersama. Mayoritas orang yang besepakat melakukan kopdar adalah mereka yang belum pernah bertemu sebelumnya dan mengenal satu sama lain, tapi istilah ini juga digunakan bagi temen-temen yang memang pernah ketemu untuk mempererat tali silaturahim. Kalo gak salah istilah kopdar pertama kali dipopulerkan oleh Sys NS dari radio Prambors Jakarta dalam segment WARKOP di era akhir 70-an. Waktu itu ikut dipelopori oleh ORARI (radio breaker) yang sempat merajai Indonesia ditahun 82-84. Nah, itu sekilas pengertian kopdar dan history kenapa disebut kopdar.

Di Pendaki Laka-laka itu sendiri nih gaes, kopdar berlangsung setiap bulan setahun terakhir ini. Setelah beberapa bulan break bulan puasa dan lebaran, akhirnya diadakan kopdar kembali, nah, ini dia kopdar yang ke-19. Kopdar yang lalu agendanya adalah arisan dan pengajian anggota PL. Untuk mengawali kopdar kali ini yang sudah break beberapa bulan, kami dari PL mengundang seluruh anggota grup PL di Facebook, temanya (jeng.... jeng.... jeng....) 'Paseduluran Laka Watese' (Persaudaraan tiada batasnya), tujuannya untuk mempererat tali persaudaraan anggota komunitas antara satu sama lain. Kopdar ini dilaksanakan Sabtu (5/9/2015), di lapangan belakang SMA N 1 Tegal, ba'da maghrib. Sekedar flashback nih yee, pada awal dibentuknya PL, kopdar juga dilaksanakan di SMA N 1 Tegal. Yaa, ini nostalgia ceritanya.

Alhamdulillah, petjah! Ada sekitar 20 orang lebih kumpul disini, dari anggota yang biasa kumpul sampai anggota yang baru merapat. Rame lho, nyesel deh yang gak ikutan :p
Agenda kali ini perkenalan dari anggota yang baru merapat,, yaa bisa dibilang sekedar pemanasan untuk menjadi awal kopdar menuju agenda kopdar selanjutnya, juga pembahasan persiapan menjelang rappelling besok, Minggu (6/9/2015) yang sudah direncanakan di jembatan Kaligung Bumijawa. Acara kopdar dimulai dengan ngopi-ngeteh syahdu, perkenalan, hingga malam keakraban dengan obrolan-obrolan ringan.


Acara Kopdar ke - 19



Besoknya, pukul 06.00 wib kami berkumpul di Taman Rakyat Slawi. Sekitar 25-30 orang berangkat menuju Pos Pengamatan Gunung Slamet di Gambuhan kecamatan Pulosari kabupaten Pemalang pukul 07.00 waktu Indonesia bagian Slawi menggunakan sepeda motor.


Dari pertigaan desa Tuwel, kami belok ke kiri menuju desa Gambuhan. Jalanannya syahdu gaes. Alusss.. Sampai disana, sungguh jauh lebih indah dari yang kami bayangkan, Slamet yang berdiri gagah terlihat jelas dihadapan kami. Hamparan hutan dikaki Slamet membentang luas. Puluhan rumah terlihat dikakinya, warga-warga bercocok tanam, seakan menjadi satu kesatuan alam lukisan Maha Karya. MasyaAllah, maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Gn. Slamet dari pos Gambuhan


Kami menemukan banyak alat pemantau disana, diantaranya teropong, dari sini kami bisa melihat puncak Slamet beserta pasir dan bebatuannya, (saya jadi ngebayangin sensasi berjalan diatas tanah Slamet). Kami juga disuguhi grafik detak jantung Slamet yang bergerak setiap detiknya. Miniatur gunung Slamet, sampai alat pendeteksi ledakan yang terjadi di gunung. Alat pendeteksi ini akan berbunyi ketika terjadi ledakan atau gempa di gunung. Sembari menikmati moment langka ini, dalam hati berbisik ; 'Lekas normal mbah Slamet...' berharap gunung tertinggi di Jawa Tengah ini lekas normal.


Seismometer

Miniatur Gn. Slamet

Sekitar satu jam kami menikmati keindahan Maha Karya Pencipta. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju jembatan Kaligung yang terletak di Bumijawa. 



Jembatan yang menghubungkan daerah Bumijawa dan daerah Tuwel membentang sepanjang 70 meter di atas sungai Kaligung paling dasar. Untuk panjang dari tepian sungainya ke jembatan itu sendiri kira-kira 20 meter. Penasaran gimana rasanya di gantungin di ketinggian 20 meter di atas tepian sungai Kaligung yaa? Simak terus yuk...

Jalan menuju jembatan Kaligung - Bumijawa


Dimulai pemasangan tali sepanjang 50 meter oleh tenaga profesional dengan standar safety, yang gak asing lagi buat kita, bang Jono yang akrab disapa bang Erte ini sudah tiga kalinya menemani kami Rappeling, lebih tepatnya momong kami, hehe..

Peserta uji nyali pertama berhasil sampai tepian sungai kalingung dari ketinggian 20 meter diatas tepian sungai. Selanjutnya peserta cewek mulai maju mencoba. Semuanya pake standar safety, insyaAllah. Rasa deg-degan pun mulai campur aduk, kami satu persatu akhirnya mencoba dan berhasil sampai ketepian sungai,, sensasinya?? Petjaaaaaah! Berasa turun dari Hercules beberapa menit, hehe.. kalo saya sih berasa terbang :D


Jembatan Kaligung - Bumijawa




























Sembari menikmati pemandangan rappelling, kami disuguhi pemandangan aliran sungai Kaligung. Tidak ingin melewatkan kesempatan berkumpul, beberapa dari kami pun langsung terjun main air, ada juga yang mandi di kesegaran air terjunnya atau sekedar duduk di bebatuan.




Waktu menunjukkan tiba saatnya shalat Dhuhur. Kami bergantian mengambil wudhu dan mengantri sholat berjamaah, karena matras yang kami bawa terbatas. Semoga Allah selalu ridho dengan perjalanan kami ya,, ingat piknik ingat kewajiban.




Masih sembari menikmati aliran sungai dan menunggu teman-teman yang masih nagih buat digantungin, kami ngopi ngeteh syahdu lagi ditepian sungai.






Nikmat luar biasa bisa bertemu orang-orang luar biasa disini. Terimakasih sudah melengkapi perjalanan antara kami satu sama lain. Keluarga baru yang disebut kebahagiaan paling sederhana. KALIAN. Iya, KALIAN.



Sekitar pukul 14.40 waktu Bumijawa, kami pulang menuju titik awal kumpul, Taman Rakyat Slawi. Sesampainya disana, ada yang pamit pulang lebih dulu, ada juga yang masih ingin menikmati kebersamaan singkat dengan pemandangan bocah-bocah alit bermain skuter, sepeda, penjual balon, makanan, dan lain-lain.

Tunggu event menarik lainnya ya gaes,,

Salam lestari,
Salim paseduluran..! ;)

Dua hari  kemudian kami mendapat kabar bahagia,

"Diberitahukan dengan hormat bahwa Tingkat aktivitas G. Slamet diturunkan dari Level II (Waspada) menjadi Level I (Normal) terhitung tanggal 8 September 2015Pkl 17:00 WIB. Terimakasih atas perhatiannya" (Sumber : PVMBG)

(Lagi lagi) Alhamdulillah....

Meskipun demikian, jalur pendakian Gn. Slamet belum resmi dibuka, dikarenakan masih ada titik api dibeberapa bagian hutan Gn. Slamet.

Story by : Oktaviani Ferla

No comments:

Post a Comment