Thursday, September 17, 2015

Vote for a Leader Pendaki Laka-laka (PL)


Pendaki Laka-laka (PL) adalah suatu komunitas pendaki gunung yang berada di wilayah Kota Tegal dan sekitarnya. Komunitas Pendaki Laka-laka secara resmi didirikan di Gunung Semeru pada Hari Minggu (25/5/2014) berdasarkan Deklarasi Semeru yang dihadiri oleh sekitar 23 orang pendaki. Dua puluh tiga Pendaki ini bersama sama melakukan pendakian pada tanggal 23 s/d 27 Mei 2014 star point dari Kota Tegal. Pada tanggal yang sama (25/5/2014) Pendakian dengan menggunakan nama yang sama ; “Pendaki Laka-laka” turut mensupport deklarasi dari Puncak Gunung Sumbing.

Awalnya kami bukanlah sebuah organisasi formal yang lengkap dengan struktur keanggotaan. Kami hanya sebuah komunitas sebagai ajang komunikasi antar pendaki, khususnya area Tegal. Namun pada satu tahun terakhir ini, berdasarkan kesepakatan bersama kami akhirnya membentuk sebuah strukturisasi kepengurusan komunitas Pendaki Laka-laka (PL). Adapun tujuannya adalah sebagai ajang silaturahmi sesama Pencinta Alam khususnya para Pendaki Gunung Regional Tegal dan sekitarnya. Selain itu diharapkan dengan terbentuknya komunitas Pendaki Tegal ini yaitu adanya peningkatan kecintaan terhadap alam dan pelesatariannya khususnya bagi semua member Pendaki Laka-laka (PL).

Bersama makin beragamnya kegiatan komunitas dan makin bertambahnya antusiasme masyarakat mengikuti kegiatan dari beragam karakter yang berbeda, maka dibutuhkan manajemen organisasi yang tepat agar organisasi bisa menjalankan visi serta misinya. Setelah mencapai kesepakatan dibentuknya strukturisasi kepengurusan komunitas, kamipun menyiapkan persiapan menuju musyawarah strukturisasi kepengurusan Pendaki Laka-laka.


Pada Sabtu (12/9/2015) tepatnya ba'da maghrib bertempat di Basecamp PL (Jl. Kaligung No. 29 Tegal) 19 anggota berkumpul dengan harapan penuh membangun komunitas tercinta ini lebih kokoh. Tiga kandidat sebagai ketua umum pun sudah ditunjuk jauh sebelum hari H, diantaranya adalah ;
1. Syamsul Arifin (Syamsul)
2. Rizqi Aminudin (Rizqi)
3. Indra Wiratama (Indra)

Ketiga kandidat ini bukanlah orang lawas dalam hal pendakian atau kegiatan outdoor. Tapi bukan tentang seberapa banyak pengalaman atau lebih dini mencicipi asam garam dalam pendakian. Melainkan sebuah komitmen utuh bersama-sama membangun sebuah komunitas dan mengembangkan generasi penerus. Karena bukan tentang siapa yang lebih ahli, bukan tentang siapa yang lebih mumpuni, juga bukan tentang siapa yang lebih berpengalaman apalagi tentang berapa banyak gunung yang pernah didaki. Beginilah cara sesepuh PL itu sendiri dalam mengembangkan dan menggerakkan generasi muda dalam komunitas.


Adapun Visi dan Misinya, sebagai berikut;

Visi :
Menjalin tali silaturahmi khususnya pendaki gunung Regional Tegal dalam berkegiatan di alam bebas maupun dalam pelestarian lingkungan hidup.

Misi :
-Menumbuhkan rasa iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
-Mempersiapkan jiwa  yang intelektual, kreatif serta tangguh dalam mengembangkan kegiatan di alam bebas maupun pelestarian lingkungan hidup melalui kegiatan rutin dilapangan ataupun non lapangan.
-Menjadi mitra pemerintah atau swasta dalam usaha atau kegiatan di bidang mountaineering, pelestarian lingkungan hidup, maupun sosial.


Berdasarkan vote, diperoleh hasil sebagai berikut ;
1. Syamsul Arifin : 6 suara
2. Rizqi Aminudin : 3 suara
3. Indra Wiratama : 10 suara


Berdasarkan hasil perolehan suara terbanyak, maka ditetapkan -Indra Wiratama- sebagai ketua umum Pendaki Laka-laka periode 2015/2016.


Setelah itu, berdasar kesepakatan bersama, kami membentuk struktur kepengurusan, meliputi sekretaris, bendahara, dan divisi-divisi.


Ketua : Indra Wiratama
Sekretaris : Oktaviani Ferla Ayunda
Wakil Sekretaris : Nur Mumtahana
Bendahara : Syamsul Arifin
Wakil Bendahara : Agung Khafabih
Divisi-divisi :


- Divisi Pengembangan Organisasi dan Hubungan Masyarakat :
1. Rizqi Aminudin
2. M. Iqbal


- Divisi Logistik :
1. Budi Ismanto
2. Zulfikar Maulana
3. M. Nazir
4. Siti Mulyati

- Divisi Kerohanian :
1. Abdurrahman
2. Musyafa

- Divisi Komunikasi dan Informasi :
1. WW. Aribowo
2. Meutia Bintan S

- Divisi Umum :
1. Dyastuti Dwi CF
2. Sary Wulan K
3. Klang Salim
4. M. Farid
5. Darsono

Semoga dengan terbentuknya struktur kepengurusan, keluarga besar Pendaki Laka-laka bisa menjalankan amanah secara baik sesuai dengan visi dan misinya.

Terimakasih kami ucapkan kepada teman-teman atas kerjasama yang amat luar biasa selama ini. Kokohkan tali, mari bersama mewujudkan sebuah komunitas yang laka-laka.


Salam lestari,

Salim paseduluran!

Friday, September 11, 2015

70 Tahun Indonesia di Gunung Merbabu


17 Agustus hampir tiba, kawan! Ah, kira-kira nanti mau ikut lomba apa ya? Makan kerupuk? Balap karung? Bawa kelereng pake sendok? Pentung plastik? Atau apa? Pasti seru kalau bisa ikut memeriahkan peringatah HUT RI, tapi sayangnya usia kita udah kadaluarsa buat ikutan lomba lomba yang seru kaya begitu. Jadi mari kita rayakan peringatah HUT RI yang ke-70 dengan cara yang lain.

Planning, planning, planning...

Dan jadilah rencana untuk merayakan HUT RI tahun ini dengan perjalanan ke Gunung Merbabu. Gunung Merbabu merupakan salah satu gunung yang populer di kalangan pendaki karena keindahan pemandangannya. Dua sabana yang ada menjadikan Gunung Merbabu sebagai satu destinasi yang pantang dilewatkan oleh para pecinta alam. Gunung dengan puncak di ketinggian 3142 MDPL tersebut terletak di wilayah Kabupaten Magelang - Jawa Tengah. Ada beberapa jalur yang dapat menjadi opsi untuk mendaki Gunung Merbabu. Di antaranya adalah Selo, Wekas dan Kopeng. Tapi kami telah sepakat untuk melakukan pendakian Gunung Merbabu via Wekas. Kenapa? Salah satu alasannya adalah karena di jalur Wekas kita dapat menemui banyak sumber air. 

Kami berangkat dari Tegal pada hari Sabtu (15/08/2015) ba'da Isya. Sengaja pilih perjalanan malam, biar sampai basecamp pagi dan siangnya kita langsung pendakian. Itu rencanya.

Jalan beraspal pun kerap berlubang, motor yang sudah diservis pun kerap mogok di jalan. Itu adalah salah satu hal yang kami alami. Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam, salah satu motor teman kami mogok di daerah Comal. Alhasil kami harus cari tempat yang pas untuk memarkir motor dan mengecek kondisi kendaraan tersebut. Menjumpai sebuah warung kecil, akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat sambil tanya-tanya sama si pemilik warung, barangkali ada bengkel yang buka di dekat sini. Kata si pemilik warung, "Coba lurus ke timur, Mas. Di sana ada bengkel."


Motor mogok di jalur pantura
Dengan dibantu oleh motor yang lain, kami mencoba membawanya ke bengkel terdekat. Tapi rupanya kerusakan yang dialami si motor cukup serius. Harus dibawa ke dealer. Sedangkan waktu itu sudah jam 22.00. Tidak ada satupun dealer yang buka. Kami coba untuk menghubungi saudara terdekat untuk minta bantuan, tapi ternyata hasilnya nihil. Cukup lama kami duduk-duduk (sambil bingung, cemas dan ngantuk) di perempatan lampu merah Comal. Di samping pos polisi tepatnya.
 


Istirahat di lampur merah Comal sambil mikirin nasib

Bahkan, mungkin saking kasihannya melihat kami, ada salah satu petugas yang sedang berjaga tiba-tiba datang menghampiri kami dan menyodorkan sekotak getuk. Nah, ini dia nikmat di balik sengsara (walaupun sebenernya kami ngga sesengsara yang teman-teman bayangkan). Kami nikmati dulu jajan pemberian pak polisi itu, sambil berharap ada balai bantuan yang datang dan menawarkan tumpangan sampai ke basecamp Merbabu (ngayal).


Getuk pemberian Bapak Polisi
Setelah mencoba cari bantuan kesana kemari, akhirnya kami memutuskan untuk putar arah dan menginap di salah satu komplek pondok pesantren terdekat (walaupun yang terdekat jaraknya hampir 8 km), sementara motor yang mogok harus dititipkan di salah satu bengkel yang (kebetulan) masih buka. Alhamdulillah kami bisa bersitirahat dengan nyaman malam itu.


Berpose bersama sebelum melanjutkan perjalanan




Minggu (16/08/2015) usai sarapan dan berkemas-kemas, kami siap untuk melanjutkan perjalanan (yang sempat tertunda). Perjalanan pagi ini dimulai dengan membawa si motor mogok ke dealer. Beruntung di hari minggu dealer buka lebih awal, dan tidak perlu mengantri panjang. Jadi jam 09.00 kami sudah siap untuk kembali melanjutkan perjalanan ke Magelang.


Menunggu motor selesai diperbaiki






Rupanya motor mogok bukanlah satu-satunya hal yang membuat perjalanan kami jadi penuh sensasi. Ketika sedang dalam perjalanan menuju Wekas, kami sempat terkejut karena ada operasi lalu lintas. Sebagaimana pengendara sepeda motor yang normal, sudah pasti kami langsung dag-dig-dug. Tapi alhamdulillah semua berjalan lancar (walaupun ada 'ketidaklancaran' yang ngga perlu buat dijelasin di sini).


Operasi lalu lintas


Stop! Cek kelengkapan surat kendaraan

Pukul 14.00 kami tiba di basecamp pendakian via Wekas. Di situ kami bisa istirahat, makan siang dan mulai re-packing untuk persiapan pendakian sore hari. Iya, awalnya kami memang berencana untuk mendaki pagi hari, tapi karena ada kendala ini-itu, jadilah jadwal tersegeser. Realita memang 'jarang' sejalan dengan ekspektasi. Tapi kemunduran jadwal tidak mengurangi sedikit pun semangat kami.


Gapura basecamp Wekas

Gerbang jalur pendakian Wekas
Jalan menuju basecamp
Selamat datang di basecamp pendakian Gunung Merbabu !!!
Istirahat sejenak dan makan siang
Pukul 16.00 kami memulai perjalanan. Rupanya perjalanan sore hari membuat kami bisa menikmati senja yang indah. Langit jingga, angin tak terlalu kencang, sehingga tidak membuat badan  menggigil. Ketika langit beranjak gelap, lampu lampu senter penerang jalan mulai dinyalakan. Kami tiba di pos 1 - Watu Tupang sekitar pukul 19.00, istirahat sejenak sembari menunggu antrian karena jalur pendakian yang lumayan padat. Harap maklum, beginilah suasana gunung ketika musim 17an tiba.


Pemandangan sore hari di tengah perjalanan


Setelah kurang lebih menempuh dua jam perjalanan, kami tiba di pos 2 yang sudah dipadati oleh tenda-tenda para pendaki. Dua tenda kami pun sudah berdiri, sengaja dipasang berhadapan. Saatnya membongkar isi tas. Mengumpulkan logistik, menyiapkan makanan dan minuman panas. 

Seperti halnya malam keakraban, kami pun ngobrol ini itu sampai larut malam. Namun mengingat besok harus melanjutkan perjalanan ke puncak, kami bergegas untuk istirahat.


Menikmati suasana malam yang dingin
Jeng... jeng... jeng... Ini dia, 17 Agustus ketika langit masih gelap. Pagi itu, sekitar pukul 03.00, kami mulai mempersiapkan kelengkapan yang akan dibawa ke puncak, sementara tas besar dan barang-barang yang lain akan ditinggal di tenda. Pagi itu suasana benar-benar dingin dan cukup berangin. Tapi kami harus segera bergegas untuk mengejar waktu.


Persiapan sebelum summit attack
Awalnya kami berharap bisa melihat sunrise dari puncak, tapi karena sempat terjadi antrian di sepanjang jalur pendakian, akhirnya kami harus rela menikmati sunrise di tengah perjalanan. Langit hitam berubah jingga, kemudian mulai nampak gumpalan awan yang terbentang sejauh mata memandang. Dari tempat kami berdiri, nampak Gunung Sindoro-Sumbing- Prau yang terlihat dari kejauhan. 


Pemandangan saat fajar tiba




Hari makin siang, dan kami pun bergegas melanjutkan perjalanan. Medan makin menanjak, terjal. Ditambah lagi dengan bebatuan yang mudah lepas ketika dipijak. Begitulah kondisi medan ketika musim kemarau. Hujan yang belum turun selama beberapa bulan terakhir membuat tanah menjadi kering, menimbulkan debu berterbangan kemana-mana saat tanah dipijak. 


Medan pendakian yang terjal
Gunung Merbabu memang terkenal dengan sebutan seven summit. Ada yang bilang juga kalau Gunung Merbabu itu gunung PHP. Tahu kan istilah PHP ? Pemberi harapan palsu. Kata sebagian orang yang sudah pernah ke Gunung Merbabu, mereka sering merasa di-PHP gara-gara mengira sudah sampai di puncak, tapi nyatanya itu bukanlah puncak. Tapi entah bagaimana kami tidak merasa demikian. Kami benar-benar menikmati perjalanan tersebut. Tak perlu terus mencari-cari dan bertanya-tanya dimana puncaknya, yang terpenting adalah tetap berjalan ke depan. 







Bahkan, saking menikmatinya suasana di sana, kami sampai tertidur ketika sedang beristirahat di tepian jalur pendakian. Tanpa kami sadari, ternyata hari sudah terlampau siang. Sangat disayangkan, karena sebagian anggota dari tim kami tidak berhasil sampai dipuncak mengingat waktu yang tidak memungkinkan. 





Tapi tak mengapa, karena inti dari sebuah pendakian bukanlah tentang berdiri di atas puncak, tapi tentang bagaimana kita memaknai setiap pijakan langkah untuk menuju puncak itu sendiri. Orang bilang ; diatas puncak masih ada 'puncak'.

Dari tempat kami berdiri, nampaklah lukisan alam yang luar biasa indah. Bagaimana mungkin kita tak mencitai negeri yang elok ini? Bagaimana mungkin kita tega untuk merusak keindahannya? Sudah semestinya kita sadar tentang bagaimana memaknai arti sebuah perjalanan. Apalagi perjalanan dengan tujuan untuk ikut bersuka cita dalam memperingati hari jadi negeri ini.


















Puas menikmati pemandangan yang indah, kami segera beranjak turun, kembali ke pos dua. Dan sedikit cerita, ketika dalam perjalanan turun, kami bertemu dengan seorang gadis cilik yang digandeng ibunya. Ketika ditanya, ternyata nama gadis kecil tersebut adalah Edelweis. Gadis yang usianya baru tiga tahun itu nampak sangat ceria. Beberapa kali dia merengek minta naik ke atas batu besar yang berada di persimpangan jalur pendakian. Tak mau melewatkan momen tersebut, kami pun ambil bagian untuk berfoto bersamanya.

"Dadah Dede Edelweis." singkat saja perjumpaan dengannya. Tapi benar-benar berkesan, apalagi ketika kami tahu bahwa Edelweis datang kemari tak cuma dengan ibunya, tetapi juga dengan ayahnya. Ini piknik keluaga! Luar biasa sekali.

Tiba di pos 2, sebelum mengemasi semua barang, kami sempatkan untuk memasak dan makan siang. Barulah setelah itu kami packing kembali dan bersiap untuk pulang.








At least :

Jadilah pecinta alam yang mencintai alam. 
Jadilah pecinta alam yang mencintai negeri tempat alam itu berada. 
Dan jadilah pencinta alam yang mencintai dan mau menjaga segala pemberian Yang Maha Kuasa. 

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA !!!

Kopdar ke-19 dan Rappelling Pendaki Laka-laka

KOPDAR KE-19 dan RAPPELLING
PENDAKI LAKA - LAKA

KOPDAR. Kopdar itu kan artinya kopi darat ya gaes. Janjian untuk ketemu / tatap muka secara langsung disuatu tempat yang udah disepakati secara bersama. Mayoritas orang yang besepakat melakukan kopdar adalah mereka yang belum pernah bertemu sebelumnya dan mengenal satu sama lain, tapi istilah ini juga digunakan bagi temen-temen yang memang pernah ketemu untuk mempererat tali silaturahim. Kalo gak salah istilah kopdar pertama kali dipopulerkan oleh Sys NS dari radio Prambors Jakarta dalam segment WARKOP di era akhir 70-an. Waktu itu ikut dipelopori oleh ORARI (radio breaker) yang sempat merajai Indonesia ditahun 82-84. Nah, itu sekilas pengertian kopdar dan history kenapa disebut kopdar.

Di Pendaki Laka-laka itu sendiri nih gaes, kopdar berlangsung setiap bulan setahun terakhir ini. Setelah beberapa bulan break bulan puasa dan lebaran, akhirnya diadakan kopdar kembali, nah, ini dia kopdar yang ke-19. Kopdar yang lalu agendanya adalah arisan dan pengajian anggota PL. Untuk mengawali kopdar kali ini yang sudah break beberapa bulan, kami dari PL mengundang seluruh anggota grup PL di Facebook, temanya (jeng.... jeng.... jeng....) 'Paseduluran Laka Watese' (Persaudaraan tiada batasnya), tujuannya untuk mempererat tali persaudaraan anggota komunitas antara satu sama lain. Kopdar ini dilaksanakan Sabtu (5/9/2015), di lapangan belakang SMA N 1 Tegal, ba'da maghrib. Sekedar flashback nih yee, pada awal dibentuknya PL, kopdar juga dilaksanakan di SMA N 1 Tegal. Yaa, ini nostalgia ceritanya.

Alhamdulillah, petjah! Ada sekitar 20 orang lebih kumpul disini, dari anggota yang biasa kumpul sampai anggota yang baru merapat. Rame lho, nyesel deh yang gak ikutan :p
Agenda kali ini perkenalan dari anggota yang baru merapat,, yaa bisa dibilang sekedar pemanasan untuk menjadi awal kopdar menuju agenda kopdar selanjutnya, juga pembahasan persiapan menjelang rappelling besok, Minggu (6/9/2015) yang sudah direncanakan di jembatan Kaligung Bumijawa. Acara kopdar dimulai dengan ngopi-ngeteh syahdu, perkenalan, hingga malam keakraban dengan obrolan-obrolan ringan.


Acara Kopdar ke - 19



Besoknya, pukul 06.00 wib kami berkumpul di Taman Rakyat Slawi. Sekitar 25-30 orang berangkat menuju Pos Pengamatan Gunung Slamet di Gambuhan kecamatan Pulosari kabupaten Pemalang pukul 07.00 waktu Indonesia bagian Slawi menggunakan sepeda motor.


Dari pertigaan desa Tuwel, kami belok ke kiri menuju desa Gambuhan. Jalanannya syahdu gaes. Alusss.. Sampai disana, sungguh jauh lebih indah dari yang kami bayangkan, Slamet yang berdiri gagah terlihat jelas dihadapan kami. Hamparan hutan dikaki Slamet membentang luas. Puluhan rumah terlihat dikakinya, warga-warga bercocok tanam, seakan menjadi satu kesatuan alam lukisan Maha Karya. MasyaAllah, maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Gn. Slamet dari pos Gambuhan


Kami menemukan banyak alat pemantau disana, diantaranya teropong, dari sini kami bisa melihat puncak Slamet beserta pasir dan bebatuannya, (saya jadi ngebayangin sensasi berjalan diatas tanah Slamet). Kami juga disuguhi grafik detak jantung Slamet yang bergerak setiap detiknya. Miniatur gunung Slamet, sampai alat pendeteksi ledakan yang terjadi di gunung. Alat pendeteksi ini akan berbunyi ketika terjadi ledakan atau gempa di gunung. Sembari menikmati moment langka ini, dalam hati berbisik ; 'Lekas normal mbah Slamet...' berharap gunung tertinggi di Jawa Tengah ini lekas normal.


Seismometer

Miniatur Gn. Slamet

Sekitar satu jam kami menikmati keindahan Maha Karya Pencipta. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju jembatan Kaligung yang terletak di Bumijawa. 



Jembatan yang menghubungkan daerah Bumijawa dan daerah Tuwel membentang sepanjang 70 meter di atas sungai Kaligung paling dasar. Untuk panjang dari tepian sungainya ke jembatan itu sendiri kira-kira 20 meter. Penasaran gimana rasanya di gantungin di ketinggian 20 meter di atas tepian sungai Kaligung yaa? Simak terus yuk...

Jalan menuju jembatan Kaligung - Bumijawa


Dimulai pemasangan tali sepanjang 50 meter oleh tenaga profesional dengan standar safety, yang gak asing lagi buat kita, bang Jono yang akrab disapa bang Erte ini sudah tiga kalinya menemani kami Rappeling, lebih tepatnya momong kami, hehe..

Peserta uji nyali pertama berhasil sampai tepian sungai kalingung dari ketinggian 20 meter diatas tepian sungai. Selanjutnya peserta cewek mulai maju mencoba. Semuanya pake standar safety, insyaAllah. Rasa deg-degan pun mulai campur aduk, kami satu persatu akhirnya mencoba dan berhasil sampai ketepian sungai,, sensasinya?? Petjaaaaaah! Berasa turun dari Hercules beberapa menit, hehe.. kalo saya sih berasa terbang :D


Jembatan Kaligung - Bumijawa




























Sembari menikmati pemandangan rappelling, kami disuguhi pemandangan aliran sungai Kaligung. Tidak ingin melewatkan kesempatan berkumpul, beberapa dari kami pun langsung terjun main air, ada juga yang mandi di kesegaran air terjunnya atau sekedar duduk di bebatuan.




Waktu menunjukkan tiba saatnya shalat Dhuhur. Kami bergantian mengambil wudhu dan mengantri sholat berjamaah, karena matras yang kami bawa terbatas. Semoga Allah selalu ridho dengan perjalanan kami ya,, ingat piknik ingat kewajiban.




Masih sembari menikmati aliran sungai dan menunggu teman-teman yang masih nagih buat digantungin, kami ngopi ngeteh syahdu lagi ditepian sungai.






Nikmat luar biasa bisa bertemu orang-orang luar biasa disini. Terimakasih sudah melengkapi perjalanan antara kami satu sama lain. Keluarga baru yang disebut kebahagiaan paling sederhana. KALIAN. Iya, KALIAN.



Sekitar pukul 14.40 waktu Bumijawa, kami pulang menuju titik awal kumpul, Taman Rakyat Slawi. Sesampainya disana, ada yang pamit pulang lebih dulu, ada juga yang masih ingin menikmati kebersamaan singkat dengan pemandangan bocah-bocah alit bermain skuter, sepeda, penjual balon, makanan, dan lain-lain.

Tunggu event menarik lainnya ya gaes,,

Salam lestari,
Salim paseduluran..! ;)

Dua hari  kemudian kami mendapat kabar bahagia,

"Diberitahukan dengan hormat bahwa Tingkat aktivitas G. Slamet diturunkan dari Level II (Waspada) menjadi Level I (Normal) terhitung tanggal 8 September 2015Pkl 17:00 WIB. Terimakasih atas perhatiannya" (Sumber : PVMBG)

(Lagi lagi) Alhamdulillah....

Meskipun demikian, jalur pendakian Gn. Slamet belum resmi dibuka, dikarenakan masih ada titik api dibeberapa bagian hutan Gn. Slamet.

Story by : Oktaviani Ferla